Selasa, 09 Mei 2017
Lembaga Bimbingan Belajar Menjamur, Kesalahan Sistem Pendidikankah?
Lembaga Bimbingan Belajar (BIMBEL) kian hari semakin menujukkan kemajuan di bumi pertiwi ini. Dewasa ini keberadaaan lembaga bimbel belajar bukan hanya ada di kota-kota besar, melainkan juga sudah masuk kepelosok dan paling pelosok di negeri ini. Pengelola lembaga bimbel berlomba-lomba berinovasi dalam menjalankan dan memasarkan lembaga mereka. Para pengelola bimbel ini menawarkan berbagai macam paket kepada para calon bimbel mereka. Diantaranya ada sebagian bimbel yang membuka kelas regular dan tak sedikit juga yang membuka kelas private. Beragam mata pelajaran juga ditawarkan buat para calon bimbel mereka. Umumnya lembaga ini menawarkan bimbingan mata pelajaran; Matematika, kimia, fisika, Bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan mengaji (buat yang muslim). Tentunya disetiap paket yang ditawarkan akan berbeda biaya honor yang harus dikeluarkan oleh para orang tua yang mengikutkan sertakan anaknya dalam bimbel. Paket bimbel untuk anak SD akan berbeda honornya dengan paket SMP. Begitu juga untuk anak sudah SMA mengikuti bimbel ini akan menyesuaikan honornya. Atas semakin menjamurnya lembaga bimbingan belajar saat ini banyak menuai kontraversi dari masyarakat. Sebagian mendukung dengan adanya bimbel, dan sebagian lagi menolak dengan adanya bimbel. Dan karena banyaknya bimbel belajar saat ini, banyak masyarakat mengkaitkan dengan dunia pendidikan disekolah. Banyak orang mengatakan bahwa menjamurnya bimbel dikarenakan gagalnya system pendidikan yang ada di Indonesia ini. lebih jauh lagi dikatakan bahwa bimbile menjamur karena kegagalan pihak sekolah mendidikan peserta didik yang sudah dititipkan para orang tua kepada tenaga pendidik. Sekolah disalahkan atas menjamurnya bimbel dinegeri ini. jika sekolah disalahkan, maka suka tidak suka, para pendidik (guru-guru) juga akan kena getahnya. Karena memang para guru itulah yang bertanggung jawab dalam mendidik anak-anak disekolah. Dan secara otomatis juga para pejabat terkait juga akan disalahkan oleh para orang tua. Sesungguhnya hal diatas menurut saya sah-sah saja para orang tua berpikiran. Dan memang sudah semacam menjadi budaya warga Indonesia lebih menyalahkan orang lain dari pada menyalahkan diri sendiri alias intropeksi diri (saya juga sering masuk dalam golongan ini. hhh). Sebagaimana pepatah mengatakan “Semut diseberang lautan terlihat, gajah dipelupuk mata tidak terlihat”. Sejalan dengan pepatah diatas, bahwa orang-orang menyalahkan sekolah, pendidik dan pejabat terkait tentang maraknya lembaga bimbel. Dan mereka (para orang tua) tidak berusaha mencoba intropeksi diri. Bahwa menjamurnya lembaga bimbel di negeri dan semakin banyaknya peminat untuk ikut bimbel menurut saya pribadi adalah factor dominanya adalah karena orang tua anak itu sendiri. Bahwa para orang tua jaman sekarang ini semakin banyak yang memanjakan anaknya. Sehingga yang terkesan adalah orang tua seakan-akan menjadi pembantu buat anak-anak mereka.
Hal ini berdasarkan beberapa penuturan teman penulis yang pernah ikut menjadi mentor bimbel. Tidak sedikit anak-anak ini yang meminta kepada orang tua mereka untuk ikut dalam bimbel karena adanya factor malas dalam diri anak untuk mengerjakan PR (Pekerjaan Rumah) yang diberikan oleh guru.Jadi banyak dari pegawai bimbel itu yang seharusnya sebagai mentor anak untuk memberikan penjelasan-penjalasan mata pelajaran, berubah menjadi pekerja untuk mengerjakan PR anak bibimbangannya. Bahkan kadang anak yang ikut bimbel ini dengan terang-terangan meminta mentornya untuk mengerjakan PRnya. Dan bisa jadi (saya belum punya pengalaman sebagai orang tua) para orang tua mengikutkan anaknya dalam kelompok bimbel karena keengganan orang tua itu sendiri yang mendidik, mengajari serta mereview anak-anak meraka tentang pelajaran yang diberikan oleh guru disekolah. Jadi tidak sepenuhnya harus disalahkan sekolah dan tenaga pendidik jika banyak lembaga bimbingan belajar bermunculan. Untuk itu jangan langsung menuduh sekolah dan para guru tidak professional dalam mendidik anak bapak dan ibu sekalian. Dan buat para orang tua, penulis sarankan jangan langsung menyetujui/memanjakan anak dengan mendatangkan mentor private bimbel anak, sebelum anda tahu alasan sebenarnya anak anda meminta mentor bimbel. Hormat saya buat para guru “Pahlawan tanpa tanda jasa” yang telah mengabdikan diri untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa. Semoga hari-hari para guruku sekalian penuh kebahagiaan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar